• Puisi Untuk Hari Tani

    24 September* oleh: Moh Wahyu Sholihuddin

  • Tentang Pancasila dan Kebangkitan Nasional

    Optimalisasi Pemahaman Nilai Pancasila dan Kewarganegaraan: Suatu Upaya untuk Menumbuhkan Harmonisasi Budaya Menuju Kebangkitan Nasional*

  • Teaser Tulisan KKN AOB di Kalimantan Barat 2015

    KKN 2015, Pengabdian?

  • Tulisan Anti NAPZA

    Sosialisasi Melalui Sosial Media sebagai Upaya Penyelamatan Generasi Bangsa dari Bahaya NAPZA

Rabu, 31 Oktober 2018

Lolongan Tuhan di Rerumputan (Puisi)

Lolongan Tuhan di Rerumputan


Teriakannya begitu keras
kadang hanya bumi yang mendengar
langit terlalu tinggi meraih
terhalang juga oleh bisingan suara kendaraan
menerbangkan kabarnya
pada tiap butiran pasir
entah ke mana angin menghantarkannya
karna ia hanya bergerak
tak sesuai kehendak pesannya
meski kadang menghilang
dalam pusaran yang ditelan waktu
menyelimuti suara malam
yang dianggapnya sebagai nyanyian
walau terdengar seperti jeritan
bagi angin, itu seperti lembaran dengan tinta hitam
yang kan segera kusam
walau disimpan dalam diam

Yang jatuh pada rerumputan
tersibak oleh gemercik sisa air hujan
memanggil dengan lantang
meski suaranya tak sekeras langit malam
tetapi ia mencoba untuk mengingatkan
bagaimana dulu angin diciptakan
apakah akan meninggalkan butiran pasir
yang terpaku dibalik rerumputan
bersuara atas nama perdamaian
bernyanyi dengan irama kedamaian
seperti halnya sebuah pujian
yang terdengar seperti di peribadatan
tentang Tuhan yang engkau sayang
meski panggilannya tak kau hiraukan
hanya karena bersembunyi di balik rerumputan


sumber ilustrasi:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqXr6plolft2pHzh60GFXPmX4SnahO_2Z1Kewd1QhDfuhz_Xxrd7_lQb6pyc22cx2kTzhCipUCb1dF_D9s0bRpx4HlEPKQJat9vtz95FYSckdGSE2L34Akmz66ljWdLbxhRZWwZnLPkwE/s1600/dew_grass.jpg



Selasa, 30 Oktober 2018

Jangan Mudah Dikekang (Puisi)

Jangan Mudah Dikekang


Barisan patriot sudah di depan
menyongsongkan matahari untuk kita
padanya kita pertaruhkan
sisa rembulan yang cahayanya bertengger di langit malam
yang ia perjuangkan
bukan untuk kemewahan
kegigihan bukan untuk kegagahan
tetapi untuk keturunan
dari tapak kakinya ku melihat pantun
"tuan yang ingin pergi, jerami yang dibawa pulang,
 kawan titipkan negeri ini, supaya nanti anak cucu bisa senang"

apa itu sebuah kebebasan,
pada kemerdekaan kupertanyakan
Rakit ke hulu dayung ke hilir
bukan melawan arah 
tetapi tujuan yang berbeda
bukankah rantai itu telah dilepas
mengapa masih digantung pada kaki-kaki yang mau menari
apa ia memang suka diikat
walau berjalan hanya pada jerami padi
bekas panen orang dan tuan
hanya membawa langkah
pada tujuan yang suram
entah itu untuk kesenangan

Beranilah laksana pendahulu
agar tiada malu kepada yang terdahulu
tak bisa memang menari di atas air
bila nada percikan yang dibuat
bila gelombang adalah tujuan
jangan biarkan engkau dikekang
pada ladang yang membelenggu kaki
Ingat jerami akan jadi padi lagi


sumber ilustrasi:
 https://d324bm9stwnv8c.cloudfront.net/article/20180919193255.158642109607.png

Rabu, 17 Oktober 2018

Candi Sambisari (Puisi)


Candi Sambisari*

terbangun dari tidur pulasmu
mungkin engkau ingin menikmati udara
serta hiruk-pikuk abad ini
kami singkapkan selimut hangatmu
selimut lahar yang menjagamu
rupamu pun mulai terlihat
cermin kejayaan Mataram
ditemani tiga perwara setia
bersama gelang pagarmu
kau tunjukkan kemegahanmu
            untuk sebentar,
            untuk dikagumi
            untuk sebentar,
            untuk bahan interpretasi
            untuk sebentar,
            untuk diteliti
            untuk sebentar, ya untuk sebentar
usiamu yang semakin renta
mungkin tulangmu mulai rapuh
tak kuat menahan terjangan hujan
tak tahu berapa lama
bertahan dari sinar surya
yang menjadi tenda di waktu siang





*Puisi pernah dimuat dalam Majalah Berkala mahasiswa arkeologi UGM
Keterangan foto: Candi Sambisari (dok.Wahyu)

Kamis, 11 Oktober 2018

Bukan Taruhan (Puisi)

Bukan Taruhan
Berkutat dalam perang rindu
antara waktu dan rasa haru
jelmaan ruang sirna
melihatnya dalam rekaan kata
bertaruh pada masa yang dilewati
pada kata yang dieja
mana yang bisa mendiami kalbu
dia yang terpahat
atau waktu yang begitu tekad
menjadi mesin pembersih dalam relief
mana rasa yang tertinggal
dan tak dijemput oleh tuannya
dia juga tiada yang tau
kepada doa yang dilantunkan
isi dari harapan yang nyata
bagaimanakah dengan rasa yang dimilikinya
apakah sama dengan penunggu senja
apakah bisa bertaruh pada fajar dan mega
yang hanya sebatas bayang sang surya
ini tentang hubungan
akan mati bila kalah taruhan
terutama pada purnama bersayap waktu
simpan saja dalam saku
kelak angin mengirimkan kabar
pada tiap insan penyabar
dalam bisikan yang tak perlu didengar