• Puisi Untuk Hari Tani

    24 September* oleh: Moh Wahyu Sholihuddin

  • Tentang Pancasila dan Kebangkitan Nasional

    Optimalisasi Pemahaman Nilai Pancasila dan Kewarganegaraan: Suatu Upaya untuk Menumbuhkan Harmonisasi Budaya Menuju Kebangkitan Nasional*

  • Teaser Tulisan KKN AOB di Kalimantan Barat 2015

    KKN 2015, Pengabdian?

  • Tulisan Anti NAPZA

    Sosialisasi Melalui Sosial Media sebagai Upaya Penyelamatan Generasi Bangsa dari Bahaya NAPZA

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2025

Perantau I

Berpindah,

meninggalkan tempat asal

untuk hal baru

untuk yang baru

membuka lembaran baru

mengajarkan hal baru

Berpindah, 

mencari sesuatu yang lebih indah

berharap pada suatu yang berubah

tatkala bunga jiwa merekah

pada suatu masa

yang arah dan tujuannya sama

ketika berada di sana

tidak sama seperti tempat sebelumnya

merantau untuk ilmu yang dipelajarinya

di Yogyakarta


Senin, 07 November 2022

ah

ahh

katakan saja

katakan kalau ah itu,

yang membosankan kan

ah

menyebalkan,

ahh menyenangkan

aah sudahlah

ah iya ya

ah tunggu dulu

ah nanti saja

ah bagaimana ya

nikmatnya ah

manisnya ah

ah lezatnya

ahh kecewa

apalagi ah yang tidak-tidak

ah yang bukan-bukan

ah yang iya-iya

ah yang betul-betul

ah


Kamis, 31 Desember 2020

Tentang Apa Saja (Puisi)

 Tentang Apa Saja


Aku pikir

dengan memikirkannya akan membuat menjadi lebih mudah

Aku pikir,

dengan merencanakannya akan menjadi lebih terarah

Aku pikir,

suasana bisa dikendalikan dengan begitu mudahnya

Aku pikir,

Aku bisa membujuknya

Aku pikir

Aku bisa mengarahkannya sesuai rencana

Aku pikir, dan aku pikir yang lainnya


Soal rasa

Soal kehendak

Soal angan

Apakah mungkin bisa sejalan?

dengan alam, dengan lingkungan

Meski mendaki dengan ransel berisi penuhh dengan keyakinan

jalan yang dilalui, sesuai dengan arah dan tujuan

seandainya, memang seperti itu tentang apa yang direncanakan

Angin membisikkan apa saja yang jadi penghalang

Awan membawakan berita, tentang orang-orang yang juga bepergian

Bintang menuliskan dan mengarahkan

Tentang bagaimana, menggapai tujuan

Tentang bagaimana merasakan

Tentang bagaimana memperlihatkan

Tentang bagaimana menjadikan

Tentang insan dan harapan ia diciptakan


Seberapa banyak bekal yang dibawa

untuk bepergian ke arah jalan pulang

atau pada apa yang dicitakan

Bukan tentang berat

Bukan tentang luasan

Bukan tentang keanekaragaman

Bukan tentang harga

Tapi tentang apa saja

tentang cara menggabungkan

Guna menghidupkan, 

dari apa yang telah dianugerahkan



sumber ilustrasi:
https://sriwijayaabadi.com/img3.sriwijayaabadi.com/rantai_2-43798-3143_158-t598_26.jpg


Kamis, 17 Oktober 2019

Roti (Puisi)

Roti

Kubawa setiap pagi
Sebagai bekal untuk dimakan di sekolah
Sarapan pun juga dengannya
Roti
Kesukaan keluarga kami
Meski kami memang asli pribumi
Tapi kami suka makan roti
Punya banyak bentuk
Punya banyak rasa
Beraneka ragam manfaat yang dipunya
Untuk makan berat
Atau untuk camilan saja
Dulu nenek suka membuat roti
Untuk dimakan setiap pagi
Tapi kini hanya bisa beli
Tak sempat ibu membuat roti
Langganan setiap pagi

Hari Peringatan ( Puisi)




Hari Peringatan*

hari ini hari baru, 
meski bukan tahun baru
bulan ini bulan baru
meski bukan januari
apakah yang baru itu untuk semuanya?
tentu tidak,
hanya untukku, ya untukku
tapi aku tidak egois
toh juga untuk orang yang harinya sama

yang baru aku tahu
hari ini umurku telah berkurang satu
ya, jadi jatah umurku berkurang dua puluh satu
mengenai dua puluh satu
tentu angka yang sedikit familiar dibenakku dan benakmu
yang sering dikunjungi pada malam minggu
entah sinema dua satu
ataukah yang di dekat stasiun tugu

tak patut dirayakan
hanya untuk direnungkan,
bila jatah umur bekurang
berapakah sisa umur sekarang
Yang Maha Tahu hanyalah Tuhan

telah banyak daun yang berguguran
dari batang pohon kehidupan
tali dosa semakin panjang
murka nafsu kian menantang
hanya rahmatMu yang aku harapkan

mohon doa restu para sobatku
langkah jalan lurus yang dituju
semoga aku, mereka, dan kamu
selalu dalam lindungan Yang Maha Satu



*Puisi ini saya tulis beberapa tahun yang lalu ketika ulang tahun ke-21

Selasa, 30 Juli 2019

Perempuan: Petugas Loket Stasiun (Puisi)

Perempuan: Petugas Loket Stasiun

Berlari tergopoh-gopoh
Kebiasaan ketika mau pergi
Tetapi tidak ada tiket
Dan tentu loket stasiun jadi tujuan utama
Sambil menunggu antre
Antre yang tidak pendek
Meski ada beberapa loket
Karena kereta lokal
Loketnya hanya satu, yang dibuka
Mbak-mbak yang jaga loket
Dengan nada yang sama
Melayani tiap antrean
Entah apa yang dimakan,
Konsisten
Seperti cs operator
Bolak-balik kulihat papan informasi jadwal prameks
Berharap tidak salah ketika ngomong di depan loket
Hingga giliranku pun tiba
Ada dua papan kecil bertuliskan jadwal kereta ke arah jogja
Berharap ku dapat yang lebih awal dan murah
Ada jam setengah sembilan pagi
Ada setengah sepuluh pagi
Mbaknya bertanya
Kulihat lagi
Kukatakan saja yang berangkat jam setengah sembilan
Lumayan dapat prameks yang murah dan tidak perlu menunggu lama, pikirku
Kulihat tiket sudah dicetak,
Dan mbaknya pun bilang “tiga puluh ribu”
Lho, aku sedikit bingung
Kok nggak delapan ribu
Kulihat lagi papan kecil yang bertulis jam keberangkatan lebih awal,
Kuamati, ternyata ada tulisan lain
Nama kereta lain, yang pasti bukan prameks
Mau ganti yang kereta prameks
Tetapi tiket sudah dicetak
Ya meski tidak tertuliskan identitas, kecuali hanya nomor tempat duduk
Ya apa boleh buat
Kulihat dompet, ya
Syukurlah
ada uang cash lebih
Tidak apa-apa
Apa yang mengalihkan perhatianku tadi ya?
Apa dua mbak-mbak yang menjaga loket?
karena kulihat mereka asyik mengobrol
Dan aku merasa sedikit memperhatikan
dalam lamunan yang beberapa detik




(foto: https://www.instagram.com/p/BdDoyc_gG-P/) 




Kamis, 25 April 2019

Ceritaku Dengannya 2 (Puisi)

Ceritaku Dengannya 2

Ada yang datang lagi
menyapa untuk memberi arti
atau disapa untuk mengartikan kata hati
yang datang dari tempat berbeda
pada momen yang tak pernah disangka
meski sedikit dalam berkata

Apakah aku hanya berdiam
meski pertemuan yang kurang dari sepekan
berbeda kata dan rasa yang diungkapkan
hingga ujung hari perpisahan
Namun kami masih terjaga dalam sapa dan salam
meski waktu itu dengan bermain facebook-an
karena dari jejaring itu ia kutemukan

Berkata, bersapa, tiada jumpa
meski ia juga datang ke kota
karna waktu yang tiada membela
hingga beberapa bulan lamanya
tetiba kegelisahan tercipta
seperti apakah daku dihatinya

Dalam pesan dalam kata yang aku terima
lebih banyak untuk formalitas semata
tiada daya mau membalas apa
entah yang dikata atau dirasa
hingga kini pun semakin jarang saling sapa
meski rinduku yang tak bersuara
tapi aku tetap menjaga

Pernah ku sekali berjumpa
tatkala ia datang ke Jogja
untuk tamasya bersama keluarga
berjumpa, menyapa, untuk sesaat saja
lalu ku menghilang dalam dala peredarannya
ya, hanya aku yang tak memberi balas sapa

Diamku hanya untuk menjaga
bagaimanakah kata yang tepat untuk ditata
merumitkan sendiri apa yang sederhana
pikiran yang merantai batin dengan membabi buta

Aku menunggu hingga suatu saat nanti,
terus menjaga harap dan rasa
yang kutanyakan pada diri ini
apakah ia juga memiliki rasa yang sama
ataukah telah menambatkan bahtera cintanya
pada pelabuhan terdekat
atau berlayar terus,
hingga layar rasa kami saling bertemu,
bertatap dalam rasa cinta
melalui doa kutitipkan segalanya.

Sumber Ilustrasi:
http://desainarena.com/wp-content/uploads/2014/10/Tutorial-photoshop-cara-membuat-foto-siluet-10.jpg



Rabu, 27 Maret 2019

Yang Sulit Dieja Dalam Ucap (Puisi)

Yang Sulit Dieja Dalam Ucap

Banyak yang masuk
begitu berjubel
dalam jejalan antre
mempengaruhi
Yang masuk dalam pikiran
entah dipaksa
atau karena rela
dari kabar berkabar
entah dari mana kebenarannya
hingga gumaman yang tak terkata

Apakah ada waktu
untuk memberikan rasa
apakah tidak bisa memberikan citra
dari apa-apa yang berdatangan
hanyak berkerumun dalam benak dan ingatan
seperti terdiam
tiada kata yang terlontarkan
meski pikiran
begitu arogan dalam berguman
tiada yang keluar

Hanya hati yang dapat menilai
mana yang diutarakan
mana yang disimpan untuk sendiri
berkaca pada cermin suara
yang terkunci dalam kekangan pengalaman
bibir pun enggan berucap
hanya hati dan pikiran yang bercengkerama

sumber ilustrasi :
https://banner2.kisspng.com/20180604/qa/kisspng-the-thinker-sculpture-ha-thought-pensamento-5b15f855676538.6933082115281664854235.jpg

Rabu, 20 Maret 2019

Melihat Lebih Dalam (Puisi)

Melihat Lebih Dalam


Bagaimana aku bisa mengenalnya
apabila hanya bertemu untuk pertama kali
bagaimana aku bisa memahaminya
ketika memulai bertatap kata
ketika ku melihat
dalam barisan kata yang diucapkannya
terasa ada yang mengisi
pada bagian yang hilang

Hingga ku ingin melihat
bagaiamana rasa yang ia bawa
dalam setiap tuturan kata kepadaku
inginku melihat lebih dalam
dari balik matanya
tentang bagaimana pikiran yang ia gambarkan
dalam setiap pesan yang dikirimkan
apakah senada
apakah seirama
rasa dengan kata
mata dengan rasa
dan tatapan dalam jumpa

ilustrasi: https://cdn.pixabay.com/photo/2013/02/08/09/29/lovers-79294_960_720.jpg

Rabu, 30 Januari 2019

Beberapa Hal (Puisi)

Beberapa Hal


Beberapa hal yang perlu diketahui
tetapi tidak diajarkan
beberapa hal yang perlu diketahui
tetapi tidak dipublikasikan
beberapa hal yang perlu diketahui
tetapi disembunyikan

beberapa hal perlu dilakukan
tetapi tidak direncanakan
beberapa hal perlu direncanakan
tetapi tidak dipertimbangkan
beberapa hal perlu dipertimbangkan
tetapi tidak dilakukan

hanya karena beberapa hal
menjadi penghambat akan sesuatu
hanya karena beberapa hal
memicu terjadinya sesuatu
hanya karena beberapa hal
mematikan sesuatu

hanya karena sesuatu hal
bukan berarti beberapa hal tidak dilakukan
hanya karena sesuatu hal
bukan berarti beberapa hal yang lain tidak diikutsertakan

hanya karena,
bukan berarti,
seperti sebuah kalimat yang harus disempurnakan
seperti sebuah paragraf untuk tidak dipincangkan
seperti halnya puisi ini,
bukanlah suatu hal yang menghambat beberpa hal yang lain
meski tanpa maksud dan isi
biarkanlah hal lain yang mengerti


sumber ilustrasi:
http://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700x465/photo/intisarifoto/original/18157_ketahuilah-beberapa-hal-tentang-hidup-berikut-ini-2.jpg

Jumat, 25 Januari 2019

Jangan Protes (Puisi)

Jangan Protes 

Bolehkah aku berteriak?
Melepaskan kejengkelan yang menyibukkan pikiranku
Inginku terbang ke angkasa yang tinggi
Atau pergi jauh ke dalam belantara
Melampiaskan semuanya
            Ku mau adukan
            Ku mau tanyakan
            Ku mau terikkan
            Pada alam, pada langit atau pada belantara
            Apa ini?
Kaki-kaki kecil dan tangan mungil
Pemegang suara kecil, bahkan tidak ada
Kolong jembatan jadi peristirahatan
Pinggir sungai jadi tempat yang damai
            Si Kecil yang harusnya bersama teman-teman yang lain      
            Duduk menerima pelajaran dari sang guru
            Harus berlusuh baju berlusuh badan
            Untuk memperoleh perpanjangan kehidupan
            Benar, kehidupan yang sedikit lebih lama saja
            Yang mereka inginkan
            Bukan lebih layak yang seperti kita egokan
Tak peduli di mana bisa ditemukan
Bersuara di jalan
Tak jarang yang menerima asap perenggut nyawa dari para pemilik kendaraan
Di tempat sampah,
Di mana mencari sesuatu barang yang mungkin dapat memberi upah setelah di bawa ke tempat penadah barang yang di sebut sampah
Indahkah ini?


sumber foto:
 https://www.suarapemredkalbar.com/as-assets/images/news/IMG_20171006_5d28086577_1507260061.JPG

#Hanyalah sebuah puisi lama yang telah saya tulis di tahun 2011



Rabu, 02 Januari 2019

Berdamai dengan Waktu (Puisi)

Berdamai Dengan Waktu

Engkau diam
ia tetap berjalan
engkau merangkak
ia terbang
begitu keras
tidak untuk ditakhlukkan
menelusuri roda jaman

bila engkau sanggup mengikutinya
entah untuk berapa dekade
jangan kau bersikeras melawannya
karna ia memang selalu mengiringi
dengan begitu
sanggupkah engkau mengiringinya

meski tiada terbantah
kandasnya di tengah
dalam pisah sambutnya
selalu bergandengan
berdamai,
dengan waktu

ilustrasi: https://media.suara.com/pictures/653x366/2018/02/22/40422-perjalanan-lintas-waktu.jpg


Senin, 17 Desember 2018

Melihat Rindu Dalam Matanya (Puisi)

Melihat Rindu Dalam Matanya

Bagaikan langit,
yang mengatapi bumi
menerpa dalam perjalanan waktu
tiada henti menghidupkan asa
begitu halnya rasa rindu
padamu,
menitipkan pesan
membersamai roda kehidupan
sapaan dalam kiasan kata
melihat akan kenangan lalu
terakhir dalam peraduan rasa
kala menatap bagaimana bersama
melihat
memaknai kembali
mengeja, bahasa dan cerminannya
bagaimana kah bisa sama
dalam sorot pandangannya
adakah titipan rinduku
yang sampai pada kotak suara di benaknya


ilustrasi:
https://cdn-asset.hipwee.com/wp-content/uploads/2017/05/hipwee-StockSnap_5Y2TVGW2D1-750x422.jpg


Kamis, 22 November 2018

Ceritaku Dengannya 1 (Puisi)


Ceritaku Dengannya 1


Cinta,
dalam cerita para remaja
insan yang beranjak dewasa
penuh dengan dengan kejutan adanya
seperti pepatah yang berkata,
mencari jati diri
Tentang apa
dan tentang siapa
dan dengan siapa
bagaimana ku memulainya
ketika pada waktu itu
awal menduduki bangku SMA
putih abu-abu sebagai zirah juangku
Memang membosankan bila hanya mengenyam buku

Dirinya,
Perempuan pertama
yang sedikit mengalihkan perhatianku
dari keriuhan suasana sekolah
meski sambutan hangatku hanya dalam kalbu
kurasakan bagaimana balasan dalam renungan rasa
Sebagai remaja ingin terlihat gagah di matanya
banyak hal ingin kutunjukkan
namun hanya dalam pikiran belaka
tiada aksi dalam nyata
kala itu, aku lebih menyita waktu
menghabiskan luang untuk sebuah pengalaman
menjerumuskan dalam kegiatan keorganisasian
dengan teman-teman dari berbagai kalangan
hingga ku terlena
pada apa yang telah ku pahat dahulu

Entah angin apa yang berbicara
Mendengarnya menjadi milik seseorang
dengan orang sudah lama menjadi temanku
tentu aku ingin terlihat hebat
membiarkan itu berlalu
meski hanya mencuri waktu
dalam kata dalam tatap mata
bercerita tentang kisah
hati ke hati tanpa suara
begitu rahasia dalam rasa

Begitu waktu terus bergulir
setahun dua tahun terlewati
ku diamkannya
hingga ku tahu ia sudah tak dengan temanku itu
tetap ku diamkan dalam kelabu
sampai pada akhir kenangan remaja SMA
ku mulai membuka pembicaraan dengannya
meski tak bertatap langsung
beberapa minggu cair dalam suasana
seperti sediakala
aku dan dia
meski tiada pembicaraan yang menjerumus tentang rasa
akan tetapi, kemudian hilang cerita lagi
Hingga beberapa tahun kemudian
dalam sebuah kamar dunia maya
kini ia sudah ada yang punya
dalam rasa penuh kedewasaan
dalam ikatan penuh pengertian
bukan lagi ikatan seperti masa SMA
ya, ikatan pernikahan
Tak mungkin ku memulai suasana lagi dengannya
semoga benar-benar bahagia
dengan pasangannya
dengan keluarga barunya
itu doaku,
tulus dari hatiku


sumber ilustrasi:
http://desainarena.com/wp-content/uploads/2014/10/Tutorial-photoshop-cara-membuat-foto-siluet-10.jpg

*Sebuah sajak tentang cerita lama,
*puisi apa curhat ini? bhahahahaha...

Selasa, 20 November 2018

Angin yang Menari di Sore Hari (Puisi)

Angin yang Menari di Sore Hari


Menuntun anganku pada sebuah bangku,
ke sana dan berharap mendapat cerita
meski hanya remahan dari drama romansa
tiada yang berbeda,
seperti ketika beberapa tahun yang lalu
Begitu ramai para manusia
yang berseliweran disekitaran
bersama dengan bangku-bangku yang terpatri
di samping gedung yang menghadap ada sebuah taman

Percakapan dan dentuman nada menghiasi suasana
tidakkah yang membawaku ke sini
seperti bayangan akan sunyi
percakapan dan keriuhan
juga terjadi dalam raga ini
hanya saja berbeda bentuk dan pemaknaan
keramaian hanya di dalam pikiran
bercengkerama dengan sisi lain
berdiskusi dengan membisukan mulut
dalam diam yang penuh keramaian
Hanya rasa dan aroma
dari pada angin yang menyelimuti senja
menari seakan mengejek
pada tiap insan yang menyendiri
atau mungkin maksudnya memang menghibur
dengan tarian-tariannya yang penuh kesejukan


sumber ilustrasi: https://madjikanimyang.files.wordpress.com/2010/02/autumn-1.jpg
sebuah sajak jelang senja di bangtem FIB

Senin, 12 November 2018

Mengalir Tapi Bukan Air (Puisi)

Mengalir Tapi Bukan Air


Bila ku ingat kembali
cerita tentang masa lalu
bagaimana ia memanggil
dalam nyanyian kalbu
menyeruak pada tiap bagian telinga
sedikit membisukan rasa
pada jiwa yang membungkus kabut

Sibakan angin yang menghampiri
menyapu dan mengusir
pada tiap kabut
yang sembari mengatakan
ceritanya dalam bahasa dan nada
dengan irama yang tiada bisa kubaca
memaksa dalam mengeja
menelusuri pada tiap bagian kulit dan tulang
memberikan cerita
entah bagaimana, ia tetap setia

Hingga malam yang menyapa
membunuh angin dalam peluru senyap
menggantikan selimut
dengan riuh ketenangan
mengiringi dan memandu
dalam kelam yang tak berdendang
begitu terus
berganti, berputar, dan mengalir
seperti roda kincir air
tak kekal apa yang menghampiri
malam pun kan binasa
kala mentari menjemput pagi

credit gambar:
https://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/0a/bf/68/ee/sore-berganti-malam.jpg


Kamis, 08 November 2018

Menanti Kabarmu (puisi)

Menanti Kabarmu

Bangunku,
dalam pagi yang menyinari
melihat sebuah tanda
kehadiran dalam sebuah tulisan
penyemangat bagi insan
mengeja kembali
kalimat lama yang berlalu
dengan tiap kenangan yang terbawa

Ku layangkan kembali barisan kata
pada hari demi hari
sebagai sebuah tanda
dengan mencipta rasa
menumbuhkan asa
meski dengan eja yang begitu terbata
dengan makna ku menguatkannya

Ke mana engkau kini?
menanti dalam layar imaji
memanggil dengan hati
meski memang terlupa atau sengaja
ku menyebutnya dalam setiap doa

sumber ilustrasi: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQEkZqvmFtkjLBsvjJSvWpxFKjYZvH2rWXUqZt377oYZjXQHVsv

Sabtu, 03 November 2018

Pertemuan (Puisi)

Pertemuan


Aku berlari mengejar hari
Mencari dan berusaha untuk menemui
Tidakkah kau ingat saat yang terakhir di sudut itu
Aku pergi untuk sejenak saja
Tapi engkau menghilang saat ku kembali
Apakah kau pergi bersama perjalanan hari
Tidakkah kau ingin menemuiku
Kepada siapa lagi aku bersedih hati
Letakkan sejenak sayapmu kasih
Meski letihku telah berujung
Ku kan tetap menanti, pertemuan itu

credit ilustrasi: https://airkobokan.files.wordpress.com/2016/12/pertemuan-terakhir.jpg

Rabu, 31 Oktober 2018

Lolongan Tuhan di Rerumputan (Puisi)

Lolongan Tuhan di Rerumputan


Teriakannya begitu keras
kadang hanya bumi yang mendengar
langit terlalu tinggi meraih
terhalang juga oleh bisingan suara kendaraan
menerbangkan kabarnya
pada tiap butiran pasir
entah ke mana angin menghantarkannya
karna ia hanya bergerak
tak sesuai kehendak pesannya
meski kadang menghilang
dalam pusaran yang ditelan waktu
menyelimuti suara malam
yang dianggapnya sebagai nyanyian
walau terdengar seperti jeritan
bagi angin, itu seperti lembaran dengan tinta hitam
yang kan segera kusam
walau disimpan dalam diam

Yang jatuh pada rerumputan
tersibak oleh gemercik sisa air hujan
memanggil dengan lantang
meski suaranya tak sekeras langit malam
tetapi ia mencoba untuk mengingatkan
bagaimana dulu angin diciptakan
apakah akan meninggalkan butiran pasir
yang terpaku dibalik rerumputan
bersuara atas nama perdamaian
bernyanyi dengan irama kedamaian
seperti halnya sebuah pujian
yang terdengar seperti di peribadatan
tentang Tuhan yang engkau sayang
meski panggilannya tak kau hiraukan
hanya karena bersembunyi di balik rerumputan


sumber ilustrasi:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqXr6plolft2pHzh60GFXPmX4SnahO_2Z1Kewd1QhDfuhz_Xxrd7_lQb6pyc22cx2kTzhCipUCb1dF_D9s0bRpx4HlEPKQJat9vtz95FYSckdGSE2L34Akmz66ljWdLbxhRZWwZnLPkwE/s1600/dew_grass.jpg



Selasa, 30 Oktober 2018

Jangan Mudah Dikekang (Puisi)

Jangan Mudah Dikekang


Barisan patriot sudah di depan
menyongsongkan matahari untuk kita
padanya kita pertaruhkan
sisa rembulan yang cahayanya bertengger di langit malam
yang ia perjuangkan
bukan untuk kemewahan
kegigihan bukan untuk kegagahan
tetapi untuk keturunan
dari tapak kakinya ku melihat pantun
"tuan yang ingin pergi, jerami yang dibawa pulang,
 kawan titipkan negeri ini, supaya nanti anak cucu bisa senang"

apa itu sebuah kebebasan,
pada kemerdekaan kupertanyakan
Rakit ke hulu dayung ke hilir
bukan melawan arah 
tetapi tujuan yang berbeda
bukankah rantai itu telah dilepas
mengapa masih digantung pada kaki-kaki yang mau menari
apa ia memang suka diikat
walau berjalan hanya pada jerami padi
bekas panen orang dan tuan
hanya membawa langkah
pada tujuan yang suram
entah itu untuk kesenangan

Beranilah laksana pendahulu
agar tiada malu kepada yang terdahulu
tak bisa memang menari di atas air
bila nada percikan yang dibuat
bila gelombang adalah tujuan
jangan biarkan engkau dikekang
pada ladang yang membelenggu kaki
Ingat jerami akan jadi padi lagi


sumber ilustrasi:
 https://d324bm9stwnv8c.cloudfront.net/article/20180919193255.158642109607.png